
free spirit
Pernahkah anda bermimpi seakan masih duduk di bangku di sekolah? Dan saat terbangun merasakan betapa leganya ternyata itu hanya mimpi dan kita ternyata sudah lulus sekolah? Menurut pemikiran saya yang bukan seorang ahli jiwa ini, perasaan yang lega yang luar biasa itu menandakan adanya tekanan dan beban mental yang saya pernah alami saat masih sekolah dulu, yang secara tidak sadar masih tertanam di alam bawah sadar saya sampai sekarang. Tidak disangka saya menghadapi kenyataan yang sama dengan anak-anak saya sendiri, bahkan lebih berat dari jaman kita dahulu. Kegiatan sekolah ternyata menjadi beban bagi mereka sehingga mereka mulai mencari-cari alasan bahkan berbohong untuk menghindari ‘beban’ yang disebut-sebut sebagai ‘kewajiban anak’ tersebut. Saya bukan ahli pendidikan saya hanya seorang ibu yang dengan nalurinya mengatakan tidak wajar bagi anak sekecil mereka untuk menghabiskan masa kecilnya dengan ‘menghafalkan’ hal-hal yang sebenarnya jauh di luar dunia mereka. Tentu saja Baca Tulis dan Hitung perlu, tapi diluar itu? Saya banyak membaca artikel mengenai homeschooling di internet dan banyak hal yang menjelaskan perasaan keberatan saya selama ini. Bahwa anak-anak tidak seharusnya dikumpulkan dalam satu ruangan sesuai dengan umur mereka dan dijejali dengan bahan-bahan pelajaran yang mereka tidak tertarik sama sekali. Apalagi saat mereka di tes dan dievaluasi ternyata dianggap tidak memenuhi standar kompetensi, mereka di cap kurang mampu atau bodoh. Padahal di umur semuda itu masih banyak sekali potensi yang kita gali dan asah. Mengapa harus mematahkan semangat mereka? Mengapa harus menilai keberhasilan sedini itu? Seperti mencap potongan rambut yang jelek dan berantakan saat baru dipotong seperempat jalan. Atau menilai baju yang rombeng padahal baru dipotong kainnya. Sebagai istri saya harus tetap mengikuti kebijaksanaan suami, pendapatnya bahwa anak HARUS sekolah! Saya sama tidak membenci pihak sekolah dan tentu saja saya ingin anak saya berhasil, tetapi apakah sekolah itu berarti BELAJAR? Apakah pihak sekolah yang notabene berkecimpung di dunia anak itu benar-benar mengerti dunia anak? bahwa kebutuhan mereka mengeksplor dunia dengan cara bermain? Kenyataannya mereka bahkan hanya memiliki sedikit waktu untuk bermain. Umumnya anak-anak pagi-pagi sekali sudah harus bangun dan berangkat ke sekolah, sepulang sekolah langsung les pelajaran sampai sore, belum ditambah les bahasa asing, musik, olah raga dan lain sebagainya. Jangan rebut mereka dari dunia dimana mereka merasa aman dan bebas. Saya merupakan salah satu anak yang kurang berhasil secara akademis. Masa sekolah saya lalui dengan tertatih-tatih. Saya memutuskan untuk fokus hanya pada mata pelajaran yang saya sukai, dengan asumsi nilai yang hampir sempurna. Sebaliknya mata pelajaran yang kurang saya sukai saya mendapat nilai yang buruk dan saya pun sama sekali tidak perduli, toh akhirnya di ujian akhir saya mendapat nilai yang cukup untuk lulus. Disaat saya tertarik pada satu bidang pelajaran tertentu, saya dengan segala sumber daya yang saya miliki, berusaha untuk belajar sendiri dan ternyata berhasil. Saya berhasil lolos menjadi salah satu wakil pertukaran pelajar Indonesia ke Amerika. Malang tak dapat ditolak, orang tua saya kekurangan biaya untuk membiayai keberangkatan saya dan saya pun kembali menelan pil pahit, tidak bisa sekolah ke luar negri. Saya diminta untuk sekolah di Indonesia saja tapi karena kecewa berat saya menolak dan memilih untuk bekerja saja. Dengan berbekalkan kemampuan berbahasa inggris dan keyakinan bahwa saya bisa mempelajari apapun yang saya mau, saya akhirnya bisa bekerja di sebuah perusahaan asing. Dari satu perusahaan ke perusahaan asing lainnya, banyak ilmu yang bisa saya dapat dengan merendahkan diri dan tidak malu untuk bertanya dan belajar. Disalah satu interview yang pernah saya jalani saya berkata, “I’m learning by doing…” Luar biasa kemampuan yang bisa kita miliki hanya dengan modal “saya ingin bisa dan saya mau belajar…” Tidak terbatas satu bidang tertentu tetapi di banyak bidang lain nya, bermusik, komputer, teknologi, ilmu kejuruan dsbnya. Tidak ada tidak mungkin kalau kita mau. Saya lebih tertarik dengan ide mengajak anak bermain daripada mengajari mereka, berharap mereka tertarik dan bertanya, selanjutnya alam yang mengambil alih. Yang jelas tidak dengan menjejali mereka dengan pengetahuan yang mereka tidak ingin tahu. Dan saya tidak menemukan itu di sekolah kita saat ini. Di dunia yang saya kenal, ada guru yang bisa mengerti dan ada juga yang tidak. Ada yang menguatkan semangat saya, ada pula yang malah menjatuhkan mental saya. Otoritas seorang guru di dalam kelas sangat mempengaruhi sikap dan kebijaksanaan mereka terhadap muridnya. Dan saya tidak akan pernah lupa kita seorang guru mempermalukan saya di depan puluhan teman-teman saya. Kekerasan verbal, bukankah itu merupakan salah satu bentuk penganiayaan? Jangan sampai hal-hal buruk yang pernah terjadi pada kita terulang pada anak-anak kita. Selamatkan mereka…