We are Learning on Living

a learner

a learner

Seandainya ada buku ‘Buku manual Kehidupan’, yang bisa kita pakai dalam menjalani hidup kita tentu segala sesuatunya tentu akan menjadi lebih mudah.
Kita orang tua umumnya merasa tahu pasti apa yang anak kita perlukan. Dalam hal tertentu kita memang kita tahu pasti, namun harus kita akui bahwa ada hal lainnya kita tidak tahu.

Terbayang bila seorang bayi yang baru saja dilahirkan bisa langsung bicara, kira-kira apa kata-kata pertama yang diucapkannya? Bisa jadi seperti ini, “…Wwwooow…! Siapa kamu? Dimana saya?…”
Sudah tentu sang Ibu akan berkata,”..Ini ibu, Nak…dan itu Ayah..”, terjawab sudah pertanyaan yang pertama. Secara alami anak akan mulai mempelajari satu persatu yang dilihat dan dirasakannya. Masa-masa itu adalah saat terindah bagi seorang anak. Saat ia mendapatkan semua yang dibutuhkannya tanpa syarat. Kasih sayang, perhatian dan pengetahuan.

Jawaban dari pertanyaan kedua adalah BUMI. Dan pada umumnya seorang anak baru akan mengetahui informasi itu saat duduk di bangku sekolah. Sejak jaman dahulu kala kita sudah terpaku pada konsep bahwa ilmu hanya bisa dituntut di sekolah. Tanpa tujuan untuk mendiskreditkan eksistensi sekolah, namun pada tingkat pendidikan dasar, belum perlu rasanya untuk (secara resmi) menjejali mereka dengan informasi yang sudah diatur atau di program. Hafalkan ini, hafalkan itu…! Dalam situasi yang bernuansa Otorisasi dan Doktrinisasi atas keharusan untuk patuh pada pihak yang berwenang, anak-anak menolak, mereka memberontak, lalu tercetuslah embel-embel tidak mampu, lambat, sulit mengerti, tidak patuh, nakal dsb dsb. Saat itulah anak kehilangan masa indah dalam kehidupannya, dan orang tua kewalahan mendidik anaknya. “It’s against the force of nature…”

Apakah tidak lebih baik bila kita memfasilitasi ataupun menstimulasi mereka dengan topik yang tepat hingga timbul rasa keingintahuan mereka untuk bertanya. Karena saat mereka bertanya dan mendapat jawabanlah seorang anak akan belajar. Pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupa.
Merupakan tugas orang tua untuk menyusun program sesuai dengan karakter anak yang tentu saja mereka kenal dengan baik (lebih dari guru di sekolah) berikut segudang informasi sebagai jawaban yang menjadi pertanyaan mereka. “Instead of forcefully teaching them, show them how to…and let nature take it’s course…”

Setelah berbulan-bulan terlibat dalam pembelajaran dan berkutat dengan kurikulum anak sekolah, terbentuk lah satu kesimpulan bahwa sekolah tidak lah sesulit yang kita bayangkan selama ini. Segala sesuatunya menjadi terlihat kompleks saat kita menyerahkan secara penuh pendidikan anak-anak kita pada suatu institusi tertentu (pilihan kita). Bagaimana tidak, kurikulum yang berasal dari Dinas Pendidikan Nasional yang ternyata hanya terdiri dari beberapa mata pelajaran utama relatif sedikit jumlahnya. Namun setelah dimodifikasi dan dikemas sedemikian rupa oleh pihak sekolah, bertambah menjadi belasan jumlahnya.
Lebih disayangkan lagi ketika nilai dari begitu banyak mata pelajaran tersebut, dimasukkan dalam kategori penentu keberhasilan anak di sekolah. Tidakkah hal tersebut hanya akan menyenangkan sang penyusun program tanpa mengindahkan kenyamanan sang anak? Dalam proses untuk mencapai suatu tingkat ilmu, diperlukan adanya ‘Trial and Error’. Kita semua pernah bersekolah dan tahu akan adanya kesalahan tertentu pada sistem persekolahan kita, namun tetap anak-anak dilibatkan dalam percobaan tersebut.

Diketahui pula bahwa ternyata jumlah mata pelajaran yang diujiankan secara resmi pada Ujian akhir Nasional, hanya berjumlah 3 pada tingkat SD, 4 pada tingkat SMP, dan 5 pada tingkat SMU. Jadi untuk apa anak-anak menghabiskan ratusan jam belajar dalam konteks keharusan untuk hal-hal yang disusun dan diberlakukan demi berjalannya program pada suatu institusi sekolah?
Tidakkah lebih baik untuk fokus pada mata pelajaran utama dan materi tambahan dapat diperkenalkan pada anak dalam konteks pendekatan yang menyenangkan? Apalagi bila anak boleh diberikan kesempatan untuk memilih dan mencoba program-program yang dianggapnya menarik, hingga apapun itu, anak akan melakukan kegiatannya atas kemauannya sendiri dan bukan karena suatu keharusan.

Bukankah tujuan mendidik anak adalah demi kehidupan mereka di masa yang akan datang? Dan bukan untuk menghabiskan masa kecil mereka dengan hal-hal yang orang dewasa ingin mereka kerjakan? Anak-anak adalah “manusia kecil” yang memiliki semua yang orang dewasa miliki kecuali pengalaman dan kemampuan. Mengapa tidak kita ajarkan pengalaman kita pada mereka? Pengalaman kita yang banyak membuang waktu mengerjakan hal-hal yang tidak penting bagi kelangsungan hidup. Pastikan hal buruk yang pernah terjadi pada kita tidak terjadi pada mereka.

Tidakkah akan lebih bijaksana bila kita mengajarkan mereka cara untuk benar-benar menjalani hidup? Kenalkan mereka akan indahnya dunia, darimana mereka berasal, siapa dan apa peran kita dalam kehidupannya. Bahwa hidup tidaklah mudah, terkadang kita jatuh dan kita bersedih. Terkadang kita gagal dan kecewa. Namun penting untuk menjalaninya dengan lapang dada dan berusaha untuk selalu bergembira, karena hidup tidaklah lama. Bahwa menjadi manusia yang baik dan ber Tuhan adalah yang terutama. Ajari mereka cara untuk belajar, bagaimana cara untuk mencari tahu dan bagaimana cara berpikir dengan menggunakan hati. Sediakan mereka alat yang diperlukan untuk belajar dan biarkan mereka mempelajari sendiri apa yang ingin mereka ketahui. Biarlah kita hanya menjadi pemandu wisata di dunia yang baru dikenalnya ini. “..ajari mereka cara untuk hidup…”

MyHotComments.com

Albert says…

staring at life

staring at life

These are some quotes by Albert Einstein that I personally found as “a fascinating reflections” of what education today suppose to reflects on…

“Information is not knowledge..,

..is what remains after one has forgotten what one has learned in school..,

..It is a miracle that curiosity survives formal education..,

..Intellectual growth should commence at birth and cease only at death..,

..Most people say that is it is the intellect which makes a great scientist. They are wrong: it is character..,

..It is the supreme art of the teacher to awaken joy in creative expression and knowledge..,

..Logic will get you from A to B. Imagination will take you everywhere..”

Mummy too, Goes to School…

climb on every mountain

climb on every mountain

I am 33 years old now. I have 2 daughters and a son. I am a high school graduated and never been in any higher institutions. Soon after finishing high school, I was supposed to go to the USA as an exchange student, but I didn’t. Instead, I worked in a German company and experienced in garment export bussiness. I love my work but situation that year forced me to made another decision by moved to another more prospecting company. It was a Dutch company, still in the same field of work. The difference was I had way more experience with administration and correspondence unlike my last job which took a lot of field work. Shortly, I got married and had my children. It’s been more than 13 years and I started to loose my confidence. I honestly thought I was getting lame and stupid. I also spent more than 7 years schooling my children and had enough of it. Started early this year we officially homeschooled. Minggleing with school work and curriculum made me thought on how convinient it would be for us to actually studying together. I mean, being totally free in managing our own schedule would allowed us do a whole lot more activities, including education for my own. Accidently I found this distance education program and right the way it caught my attention. So I went for it. After several preparation and administration work, I managed to get registered at the program. Since English has always been my strongest subject at school, so I securely majoring in English. I aimed to be an English language educator, however I failed to meet a specific requirement and switched to another English department which is a Translator program. Well yeah, why not. As a matter of fact, they actualy has a higher and harder level of English. Trust me, I know. I’m thinking, it wouldn’t hurt to acquired another thousand of new English vocabulary. That should be fun!
So I am now official to be a student of UPBJJ UT Bandung, a student and a mum. A brandnew page of my life had open, let it be filled with good and promising hope and dreams of tommorow. I certainly hope for other mums to join, as it is a perfect place for mums. Come on now, reboost your confidence, start making an extreme yet perfect choice of your life. Trust me, it would worth your time while children would love to see their mum is actually studying as they do. Let’s get the power of knowledge and claimed our spot in this men dominated world. FYI, the fee of tuition and material is totally reasonable not to mention a bonus of quiet gossip free life…

Student Moms on Circle of Moms
Student Moms

Bebaskan anak-anak itu..

free spirit

free spirit

Pernahkah anda bermimpi seakan masih duduk di bangku di sekolah? Dan saat terbangun merasakan betapa leganya ternyata itu hanya mimpi dan kita ternyata sudah lulus sekolah? Menurut pemikiran saya yang bukan seorang ahli jiwa ini, perasaan yang lega yang luar biasa itu menandakan adanya tekanan dan beban mental yang saya pernah alami saat masih sekolah dulu, yang secara tidak sadar masih tertanam di alam bawah sadar saya sampai sekarang. Tidak disangka saya menghadapi kenyataan yang sama dengan anak-anak saya sendiri, bahkan lebih berat dari jaman kita dahulu. Kegiatan sekolah ternyata menjadi beban bagi mereka sehingga mereka mulai mencari-cari alasan bahkan berbohong untuk menghindari ‘beban’ yang disebut-sebut sebagai ‘kewajiban anak’ tersebut. Saya bukan ahli pendidikan saya hanya seorang ibu yang dengan nalurinya mengatakan tidak wajar bagi anak sekecil mereka untuk menghabiskan masa kecilnya dengan ‘menghafalkan’ hal-hal yang sebenarnya jauh di luar dunia mereka. Tentu saja Baca Tulis dan Hitung perlu, tapi diluar itu? Saya banyak membaca artikel mengenai homeschooling di internet dan banyak hal yang menjelaskan perasaan keberatan saya selama ini. Bahwa anak-anak tidak seharusnya dikumpulkan dalam satu ruangan sesuai dengan umur mereka dan dijejali dengan bahan-bahan pelajaran yang mereka tidak tertarik sama sekali. Apalagi saat mereka di tes dan dievaluasi ternyata dianggap tidak memenuhi standar kompetensi, mereka di cap kurang mampu atau bodoh. Padahal di umur semuda itu masih banyak sekali potensi yang kita gali dan asah. Mengapa harus mematahkan semangat mereka? Mengapa harus menilai keberhasilan sedini itu? Seperti mencap potongan rambut yang jelek dan berantakan saat baru dipotong seperempat jalan. Atau menilai baju yang rombeng padahal baru dipotong kainnya. Sebagai istri saya harus tetap mengikuti kebijaksanaan suami, pendapatnya bahwa anak HARUS sekolah! Saya sama tidak membenci pihak sekolah dan tentu saja saya ingin anak saya berhasil, tetapi apakah sekolah itu berarti BELAJAR? Apakah pihak sekolah yang notabene berkecimpung di dunia anak itu benar-benar mengerti dunia anak? bahwa kebutuhan mereka mengeksplor dunia dengan cara bermain? Kenyataannya mereka bahkan hanya memiliki sedikit waktu untuk bermain. Umumnya anak-anak pagi-pagi sekali sudah harus bangun dan berangkat ke sekolah, sepulang sekolah langsung les pelajaran sampai sore, belum ditambah les bahasa asing, musik, olah raga dan lain sebagainya. Jangan rebut mereka dari dunia dimana mereka merasa aman dan bebas. Saya merupakan salah satu anak yang kurang berhasil secara akademis. Masa sekolah saya lalui dengan tertatih-tatih. Saya memutuskan untuk fokus hanya pada mata pelajaran yang saya sukai, dengan asumsi nilai yang hampir sempurna. Sebaliknya mata pelajaran yang kurang saya sukai saya mendapat nilai yang buruk dan saya pun sama sekali tidak perduli, toh akhirnya di ujian akhir saya mendapat nilai yang cukup untuk lulus. Disaat saya tertarik pada satu bidang pelajaran tertentu, saya dengan segala sumber daya yang saya miliki, berusaha untuk belajar sendiri dan ternyata berhasil. Saya berhasil lolos menjadi salah satu wakil pertukaran pelajar Indonesia ke Amerika. Malang tak dapat ditolak, orang tua saya kekurangan biaya untuk membiayai keberangkatan saya dan saya pun kembali menelan pil pahit, tidak bisa sekolah ke luar negri. Saya diminta untuk sekolah di Indonesia saja tapi karena kecewa berat saya menolak dan memilih untuk bekerja saja. Dengan berbekalkan kemampuan berbahasa inggris dan keyakinan bahwa saya bisa mempelajari apapun yang saya mau, saya akhirnya bisa bekerja di sebuah perusahaan asing. Dari satu perusahaan ke perusahaan asing lainnya, banyak ilmu yang bisa saya dapat dengan merendahkan diri dan tidak malu untuk bertanya dan belajar. Disalah satu interview yang pernah saya jalani saya berkata, “I’m learning by doing…” Luar biasa kemampuan yang bisa kita miliki hanya dengan modal “saya ingin bisa dan saya mau belajar…” Tidak terbatas satu bidang tertentu tetapi di banyak bidang lain nya, bermusik, komputer, teknologi, ilmu kejuruan dsbnya. Tidak ada tidak mungkin kalau kita mau. Saya lebih tertarik dengan ide mengajak anak bermain daripada mengajari mereka, berharap mereka tertarik dan bertanya, selanjutnya alam yang mengambil alih. Yang jelas tidak dengan menjejali mereka dengan pengetahuan yang mereka tidak ingin tahu. Dan saya tidak menemukan itu di sekolah kita saat ini. Di dunia yang saya kenal, ada guru yang bisa mengerti dan ada juga yang tidak. Ada yang menguatkan semangat saya, ada pula yang malah menjatuhkan mental saya. Otoritas seorang guru di dalam kelas sangat mempengaruhi sikap dan kebijaksanaan mereka terhadap muridnya. Dan saya tidak akan pernah lupa kita seorang guru mempermalukan saya di depan puluhan teman-teman saya. Kekerasan verbal, bukankah itu merupakan salah satu bentuk penganiayaan? Jangan sampai hal-hal buruk yang pernah terjadi pada kita terulang pada anak-anak kita. Selamatkan mereka…

Prosedur Resmi Homeschool di Indonesia

Siang kemarin saya mampir ke Departemen Pendidikan Nasional tingkat Provinsi Jawa Barat (di Jln. Rajiman no 6, Bandung) dengan tujuan mencari informasi lebih lengkap mengenai konsep Homeschooling yang akan saya jalankan. Setelah beberapa kali salah masuk dan bertanya-tanya, akhirnya saya pun tiba di departemen Pendas (Pendidikan Dasar) Divisi PLS (Pendidikan Luar Sekolah). Saya langsung disambut dengan baik oleh Bapak-bapak yang berwenang disana.

Yang pertama kali saya tanyakan adalah bagaimana pihak Diknas menanggapi konsep homeschooling itu sendiri. Mereka pun bertanya maksud dan tujuan saya. Saya menjawab ingin mendaftarkan anak-anak saya untuk Homeschool. Dengan antusias mereka pun menerangkan konsep Sekolah Rumah yang saya respon dengan antusias pula. Pembicaraan yang bersifat tukar pendapat pun terjadi, tentang mengapa Homeschool layak untuk dijadikan alternatif pendidikan bagi anak-anak. Saya sedikit tertegun mengetahui sebegitu dalam pengetahuan petugas Diknas yang awalnya saya pikir akan lebih berpihak pada pendidikan formal. Bagaimana mereka mengetahui dengan rinci tentang kelebihan-kelebihan Homeschool bagi perkembangan anak-anak kita. Kenyataan bahwa Homeschool memang legal di negara kita dan diakui secara hukum sebagai salah satu metode pembelajaran yang di ijinkan dan disahkan oleh pemerintah.

Bahwa sudah cukup banyak masyarakat Indonesia (Provinsi Jawa Barat untuk lebih spesifik) yang meng Homeschool kan anak-anak mereka untuk dengan alasan-alasan yang mengutamakan hak dan kepentingan anak. Undang-undang no 20 yang di sah kan pada tahun 2003 menunjukkan 6 tahun sudah alternatif pendidikan ini di langsungkan di Indonesia.

Sesungguhnya wadah yang menampung kegiatan pendidikan baik non formal maupun informal adalah PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yang berfungsi sebagai fasilisator dan pembina masyarakat khususnya mereka yang putus sekolah. Di Indonesia sudah berdiri kurang lebih 1000 PKBM saat ini, tersebar di berbagai lokasi di Indonesia. Masyarakat bebas untuk memilih kemana akan mendaftarkan anak-anak mereka (dengan syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan). Dan semua itu bisa kita dapatkan dengan bebas biaya alias gratis (bagi masyarakat kurang mampu) dengan ketentuan harus bersekolah di PKBM bersangkutan. Tentu saja diperlukan biaya tertentu bila memilih untuk mendatangkan tutor ke rumah. Ini membuktikan kesungguhan pemerintah dalam mencanangkan program wajib belajar di Indonesia.

Satu informasi penting yang saya dapat, bahwa selain harus mendaftarkan diri ke PKBM setempat, wajib untuk harus mendaftarkan peserta ke Dinas Pendidikan Kota Bandung sehingga nantinya mereka sah dan terdaftar sebagai peserta homeschooling yang akan diikut sertakan dalam ujian nasional. Yang menjadi jaminan mereka untuk bisa masuk ke Universitas Nasional di Indonesia.

Saya pun diperlihatkan sebuah buku berjudul “Komunitas Sekolah Rumah ” terbitan Direktorat Pendidikan Kesetaraan yang isinya menjelaskan secara gamblang mengenai sejarah dan asal mula berdirinya Homeschool di Indonesia. Beruntung saya di ijikan untuk meng copy buku tersebut untuk saya jadikan referensi.
Lebih dari itu saya sangat berterima kasih dan menghargai kebaikan bapak-bapak di Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Jawa Barat, atas informasi dan respon yang baik terhadap niat saya.

MyHotComments.com

homeschooling for the first time on Circle of Moms
homeschooling for the first time

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.